Artikel
Yudha Adhyaksa
13 Aug 2026
Banyak pelaku UMKM sudah sampai di tahap ini.
Produknya sudah ada.
Kualitasnya oke.
Bahkan sudah pernah laku.
Tapi masalahnya mulai terasa:
Akhirnya muncul pertanyaan:
“Ini sebenarnya yang salah di mana ya? Produk gue atau marketnya?”
Jawabannya sering bikin kaget…
Masalahnya bukan di produk. Tapi di cara kamu menentukan target market.
Coba kita pakai contoh sederhana.
Misalnya kamu jual kopi kemasan.
Pertanyaannya:
Kamu mau jual ke siapa?
Kebanyakan orang jawab:
Kelihatannya masuk akal.
Tapi kalau dipikir lebih dalam…
Pecinta kopi kemungkinan sudah punya kopi langganan.
Mereka mungkin:
Artinya:
Market kamu lebih sempit dan persaingannya lebih berat.
Sekarang kita balik cara mikirnya.
Bukan:
❌ “Siapa yang suka kopi?”
Tapi:
✅ “Siapa yang punya alasan untuk mulai membeli kopi?”
Daripada hanya jual ke:
Kamu bisa mempertimbangkan target:
Kenapa?
Karena mereka mungkin belum punya produk kopi langganan.
Tapi mereka punya kebutuhan atau alasan untuk mulai membeli.
Dan kebutuhan itulah yang bisa menjadi pintu masuk.
Kadang kamu sudah punya target market.
Tapi tetap mentok.
Contoh:
Masalahnya:
Marketnya terlalu kecil.
Kalau kamu tetap hanya bermain di situ:
Value ladder itu sederhana.
Bikin “tangga” penawaran dari produk yang mudah dicoba sampai produk dengan nilai lebih tinggi.
Supaya:
Kita breakdown step by step.
Target:
Orang yang belum menjadi pelanggan dan masih ingin mencoba.
Penawaran:
Tujuan:
Setelah cocok, mereka bisa membeli:
Karena:
Sudah mencoba → tahu produknya → lebih mudah melakukan pembelian berikutnya.
Untuk pelanggan yang mulai rutin membeli, kamu bisa menawarkan:
Tujuannya agar nilai transaksi pelanggan meningkat.
Untuk kebutuhan yang lebih besar, kamu bisa menawarkan:
Harga lebih tinggi karena kebutuhan dan nilai yang diberikan juga lebih besar.
Dari satu kelompok kebutuhan, kamu bisa mendapatkan:
Jadi, bukan hanya mengejar satu kali penjualan.
Tapi membangun perjalanan pelanggan dari pertama kali mencoba sampai mereka memiliki kebutuhan yang lebih besar.
Kondisi awal:
Perubahan:
Hasil:
Kondisi awal:
Perubahan:
Hasil:
Kondisi awal:
Perubahan:
Hasil:
Kondisi awal:
Perubahan:
Hasil:
Kondisi awal:
Perubahan:
Hasil:
Dampak:
Dampak:
Dampak:
Dampak:
Dampak:
Banyak orang berpikir:
“Gimana caranya jual produk ini?”
Padahal pertanyaan yang lebih penting:
“Gimana caranya orang masuk ke dunia produk ini?”
Begitu orang masuk:
Dan di situlah uangnya.
Coba jawab ini:
Nggak perlu langsung kompleks.
Mulai dari 2–3 level dulu.
Selama ini kamu jualan ke:
Perbedaannya besar.
Kalau kamu hanya jual ke market yang sudah ada: kamu rebutan dengan kompetitor
Tapi kalau kamu menciptakan market: kamu jadi pemimpin
Kalau kamu mau belajar cara bikin sistem seperti ini, pelan-pelan tapi praktis…
Kamu bisa gabung ke membership di SekolahUMKM.com.
Biayanya sekitar 50 ribu per bulan.
Cocok buat kamu yang:
Nggak harus langsung besar.
Yang penting kamu mulai bangun arah yang benar dulu.
Target market adalah kelompok orang yang paling berpotensi membutuhkan dan membeli produk Anda. Menentukan target market tidak cukup hanya berdasarkan siapa yang sudah menggunakan produk sejenis, tetapi juga perlu melihat siapa yang memiliki kebutuhan atau keinginan untuk mulai menggunakannya.
Karena mereka belum tentu membutuhkan produk baru. Misalnya, orang yang sudah memiliki beberapa gitar mungkin jarang membeli lagi. Pasar bisa diperluas dengan mencari orang yang belum memiliki produk tersebut, tetapi memiliki alasan atau keinginan untuk mulai menggunakannya.
Mulailah dengan bertanya: siapa yang belum menggunakan produk saya, tetapi punya masalah, kebutuhan, atau keinginan yang bisa diselesaikan oleh produk ini? Dari situ, Anda bisa menemukan kelompok pasar baru yang sebelumnya belum menjadi target.
Value ladder adalah strategi membuat beberapa tingkatan produk atau layanan, biasanya dari produk dengan harga lebih terjangkau hingga produk utama dan premium. Tujuannya agar pelanggan dapat masuk dari produk awal, kemudian membeli produk atau layanan lain sesuai kebutuhan mereka.
Tidak harus. Yang lebih penting adalah memahami perjalanan pelanggan. Dari satu kebutuhan awal, Anda bisa menawarkan solusi berikutnya yang masih relevan, misalnya edukasi, produk utama, layanan tambahan, hingga layanan premium.
Karena bisnis tidak hanya bergantung pada satu kali transaksi. Jika Anda memahami apa yang dibutuhkan pelanggan setelah membeli produk pertama, Anda bisa menciptakan peluang repeat order dan penjualan lanjutan.
Beberapa kesalahan yang sering terjadi adalah menargetkan pasar terlalu sempit, hanya menjual kepada pengguna yang sudah memiliki produk sejenis, hanya memiliki satu produk, dan tidak memikirkan kebutuhan pelanggan setelah transaksi pertama.
Mulai dengan memetakan siapa calon pelanggan yang belum menggunakan produk Anda, alasan mereka mungkin tertarik, serta produk atau penawaran sederhana yang bisa menjadi pintu masuk sebelum mereka membeli produk utama.
Artikel
Berhati-hatilah dengan KATA – KATA karena mereka adalah cerminan hati dan perasaan yang PASTI mempengaruhi tindakan dan hasil. Pilihlah HANYA kata-kata yang membawa kita ke tingkat lebih tinggi...
Yudha Adhyaksa
02 Nov 2024
Rasulullah telah mengingatkan umatnya sejak 1.400 tahun lalu kalau fitnah harta dunia akan datang dan akibatnya umatnya lalai mempersiapkan bekal pahala untuk akhiratnya. Maka yang terjadi sebaliknya,...
15 Oct 2024
Namanya sebut saja Maya. Ia seorang mahasiswi semester satu di salah satu universitas ternama di Indonesia yang senang berpikir panjang. Rasanya tak sabar ingin segera menyelesaikan kuliah supay...
Yudha Adhyaksa
14 Oct 2024
Daftar Sekarang
Dapatkan semua Kelas baru gratis
dengan berlangganan