Artikel
Yudha Adhyaksa
12 Aug 2026
Di fase awal usaha, ada momen yang hampir semua pelaku UMKM pernah rasakan:
Di titik itu, banyak yang mulai panik.
Dan saat panik, keputusan sering jadi tidak sehat.
Mulai muncul kalimat-kalimat seperti:
“Gimana caranya dapet uang cepat ya?”
“Yang penting dapat dulu, nanti dipikir belakangan.”
Di sinilah sebagian orang tanpa sadar masuk ke cara-cara yang sebenarnya salah.
Bukan karena niat jahat dari awal, tapi karena kepepet.
Salah satunya: pemaksaan dalam mencari modal.
Kelihatannya seperti usaha cari dana. Tapi sebenarnya sudah masuk ke wilayah yang merusak.
Pemaksaan itu bukan selalu bentuk kasar seperti ancaman terang-terangan.
Justru sering muncul dalam bentuk halus, yang kadang dianggap “biasa”.
Contohnya:
Intinya satu:
Uang didapat bukan karena orang itu rela, tapi karena merasa terpaksa.
Dan ini yang jadi masalah besar.
Di awal mungkin terasa berhasil.
“Kemarin dapat 10 juta dari teman.”
“Dapat bantuan karena orang kasihan.”
Tapi dampaknya biasanya baru terasa belakangan.
Beberapa efek yang sering muncul:
Yang lebih berat lagi, ini bukan cuma soal bisnis. Tapi juga soal keberkahan.
Banyak pelaku UMKM tidak sadar bahwa yang dilakukan sudah masuk kategori ini.
Coba cek, apakah pernah melihat atau mengalami hal seperti ini:
Kalimat seperti:
Ini bukan minta bantuan, tapi menekan perasaan orang.
Cerita dibuat dramatis supaya orang kasihan.
Padahal:
Tujuannya agar uang lebih mudah keluar.
Saat minta modal:
Ini masuk ke manipulasi informasi.
Contoh:
Ini bukan kerja sama, tapi pemaksaan.
Kadang tidak langsung, tapi terasa.
Misalnya:
Ini sudah masuk wilayah berbahaya.
Ini yang sering tidak disadari.
Kalimat seperti:
Padahal ini bukan nasihat, tapi tekanan.
Supaya lebih terasa real, ini kejadian yang sering terjadi di lapangan.
Seorang reseller butuh tambahan stok.
Dia minta ke temannya dengan cara:
Temannya akhirnya kasih uang.
Tapi setelah itu:
Pemilik warung butuh uang cepat.
Dia bilang:
“Kalau nggak bantu, saya bisa tutup usaha.”
Tetangga akhirnya kasih.
Tapi dalam hati:
Akhirnya hubungan tidak nyaman.
Seseorang cari investor.
Dia hanya cerita:
Tapi tidak cerita:
Investor masuk, tapi saat tahu kondisi asli:
Ada yang minta uang lebih dengan cara:
Akhirnya dapat uang.
Tapi:
Ada anggota keluarga yang:
Akhirnya:
Konten dibuat seolah-olah sangat menderita.
Tujuannya:
Sekali dua kali mungkin berhasil.
Tapi lama-lama:
Ini beberapa pola yang sering banget kejadian:
Merasa:
“Yang penting usaha jalan dulu.”
Padahal cara salah tetap berdampak.
Padahal belum tentu.
Banyak yang memberi karena tidak enak, bukan karena rela.
Tidak Transparan
Tidak jujur soal kondisi usaha.
Akhirnya:
Teman, keluarga, relasi dianggap “sumber dana”.
Padahal hubungan itu lebih berharga dari uang.
Ini yang sering tidak disadari.
Cara tidak benar → hasil tidak tenang.
Bukan berarti tidak boleh minta bantuan.
Boleh. Tapi caranya harus benar.
Sampaikan dengan Jujur
Jelaskan:
Tidak perlu dilebihkan.
Bukan menekan, tapi menawarkan.
Misalnya:
“Saya ada rencana usaha, kalau berkenan bantu, ini skemanya…”
Ini penting.
Kalau ditolak:
Karena itu hak mereka.
Orang lebih mudah bantu kalau:
Gunakan:
Bukan tekanan.
Banyak orang fokus ke:
“Gimana dapat uang cepat?”
Padahal yang lebih penting:
“Gimana dapat uang dengan cara yang benar.”
Karena:
Dan dalam bisnis, kepercayaan itu aset utama.
Kadang kita lihat orang lain:
“Cepat banget ya berkembang.”
Tapi kita tidak tahu cara di baliknya.
Lebih baik:
Daripada cepat tapi penuh masalah.
Banyak pelaku UMKM sebenarnya niatnya baik.
Ingin usaha halal, ingin berkembang.
Tapi karena tidak ada arahan, akhirnya:
Kalau kamu ngerasa:
Kamu bisa mulai belajar di SekolahUMKM.com.
Di sana dibahas hal-hal praktis yang sering terjadi di lapangan:
Biayanya ringan, sekitar 50 ribu per bulan.
Mulai dari yang ringan dulu.
Yang penting kamu tidak jalan sendirian, dan usaha yang kamu bangun tetap bersih dari awal.
Pemaksaan dalam mencari modal usaha adalah upaya mendapatkan uang dengan menekan, memanipulasi, memainkan emosi, atau membuat seseorang merasa tidak enak sehingga memberikan uang. Masalahnya bukan hanya pada uang yang diterima, tetapi pada cara mendapatkannya.
Boleh, selama dilakukan secara jujur dan tanpa tekanan. Jelaskan kondisi usaha, tujuan penggunaan dana, risiko, serta bentuk kerja samanya. Pihak yang dimintai modal juga harus memiliki kebebasan penuh untuk menerima atau menolak.
Sampaikan informasi secara terbuka, termasuk kondisi usaha, kebutuhan modal, rencana penggunaan dana, potensi keuntungan, dan risiko yang mungkin terjadi. Jangan hanya menampilkan sisi keuntungan untuk membuat calon investor tertarik.
Tidak selalu. Menyampaikan kondisi yang sebenarnya untuk meminta bantuan tentu berbeda dengan sengaja melebih-lebihkan cerita, memainkan rasa iba, atau menggunakan tekanan emosional agar seseorang merasa tidak bisa menolak.
Sebaiknya tetap dibuatkan kesepakatan yang jelas, terutama jika uang tersebut digunakan sebagai modal usaha. Tentukan sejak awal apakah dana tersebut merupakan pinjaman, investasi, hibah, atau bentuk kerja sama lainnya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari.
Hormati keputusannya. Jangan marah, memaksa, atau membuat orang tersebut merasa bersalah. Penolakan adalah hak setiap orang, dan hubungan baik sebaiknya tidak rusak hanya karena permintaan modal tidak dipenuhi.
Pelaku UMKM dapat mempertimbangkan berbagai cara, seperti menggunakan modal sendiri, sistem pre-order, kerja sama bagi hasil, mencari investor dengan skema yang jelas, atau mengembangkan usaha secara bertahap sesuai kemampuan modal.
Karena orang yang memberikan dana berhak mengetahui bagaimana uangnya akan digunakan dan risiko yang mungkin dihadapi. Transparansi membantu membangun kepercayaan dan mengurangi potensi konflik di kemudian hari.
Belum tentu. Modal yang diperoleh dengan cara terburu-buru, tanpa perencanaan, atau melalui tekanan justru dapat menimbulkan masalah baru. Sebelum mencari dana, penting untuk menghitung terlebih dahulu berapa modal yang benar-benar dibutuhkan dan bagaimana kemampuan usaha untuk mengelolanya.
Prinsip sederhananya adalah sukarela, jujur, transparan, dan jelas. Jangan mendapatkan modal dengan memaksa atau memanipulasi orang lain. Modal mungkin bisa dicari kembali, tetapi kepercayaan yang rusak jauh lebih sulit untuk diperbaiki.
Artikel
Pelatihan Bisnis Online Jogja – Ingin menjadi seorang pengusaha muslim yang berhasil dan sukses? Namun Anda belum memiliki beberapa ilmu pengetahuan tentang bisnis? Apakah anda tahu salah satu p...
Yudha Adhyaksa
07 Sep 2021
Daftar Sekarang
Dapatkan semua Kelas baru gratis
dengan berlangganan