background

Artikel

Memilih Kontraktor: 2 Pilihan agar Proyek Tidak Boncos dan Tetap Sesuai Syariah

Yudha Adhyaksa

25 Jul 2026

Cover

Membangun rumah, ruko, gudang, atau proyek properti lainnya bukan hanya soal memiliki modal yang cukup. Salah satu keputusan paling penting yang akan menentukan keberhasilan proyek adalah memilih kontraktor.

Banyak proyek yang awalnya terlihat menjanjikan akhirnya mengalami berbagai masalah karena salah memilih pihak yang mengerjakan pembangunan. Proyek terlambat selesai, biaya membengkak, kualitas bangunan tidak sesuai harapan, bahkan ada yang harus dibongkar dan dibangun ulang.

Bagi pelaku UMKM maupun calon developer properti, kesalahan seperti ini tentu sangat merugikan. Selain kehilangan waktu dan biaya, hubungan dengan kontraktor juga bisa berakhir pada konflik yang sebenarnya dapat dicegah sejak awal.

Dalam perspektif syariah, persoalan ini juga berkaitan dengan prinsip kejelasan akad (gharar). Semakin jelas ruang lingkup pekerjaan, spesifikasi bangunan, hingga tanggung jawab masing-masing pihak, semakin kecil peluang terjadinya perselisihan.

Karena itu, memilih kontraktor bukan sekadar mencari harga termurah, tetapi mencari mitra kerja yang profesional, transparan, dan mampu menyelesaikan proyek sesuai kesepakatan.

Dalam artikel ini Anda akan mempelajari:

  • mengapa banyak proyek gagal karena salah memilih kontraktor,
  • cara mengevaluasi rekam jejak kontraktor,
  • pentingnya SPK dan gambar kerja,
  • perbedaan kontraktor perorangan dan perusahaan,
  • serta tips memilih kontraktor agar proyek berjalan aman, efisien, dan sesuai prinsip syariah.

Mengapa Memilih Kontraktor Sangat Penting?

Kontraktor bukan hanya orang yang membangun bangunan.

Mereka adalah pihak yang mengelola tenaga kerja, material, jadwal pekerjaan, hingga kualitas hasil akhir proyek.

Kesalahan memilih kontraktor dapat berdampak pada hampir seluruh aspek pembangunan.

Beberapa risiko yang sering terjadi antara lain:

  • proyek selesai jauh dari target,
  • biaya pembangunan terus bertambah,
  • kualitas bangunan tidak sesuai spesifikasi,
  • pekerjaan harus diperbaiki atau bahkan dibongkar,
  • hingga muncul sengketa antara pemilik proyek dan kontraktor.

Semua risiko tersebut sebenarnya dapat dikurangi apabila proses pemilihan kontraktor dilakukan secara lebih teliti sejak awal.

Jangan Menilai Kontraktor dari Penampilannya

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan pemilik proyek adalah terlalu cepat percaya karena kesan pertama.

Misalnya kontraktor terlihat:

  • ramah,
  • sopan,
  • religius,
  • pandai berbicara,
  • atau direkomendasikan teman.

Karakter yang baik tentu merupakan nilai tambah.

Namun profesionalitas dalam mengelola proyek tidak cukup diukur dari penampilan atau cara berbicara.

Bisa saja seseorang memiliki pribadi yang baik, tetapi belum memiliki sistem kerja yang rapi.

Akibatnya:

  • jadwal proyek sering berubah,
  • koordinasi dengan pekerja kurang baik,
  • penggunaan material tidak terkontrol,
  • dan hasil pembangunan tidak sesuai harapan.

Karena itu, keputusan memilih kontraktor sebaiknya selalu didasarkan pada bukti kinerja, bukan sekadar kesan pertama.

Selalu Periksa Rekam Jejak Kontraktor

Cara paling aman memilih kontraktor adalah melihat pekerjaan yang pernah mereka selesaikan.

Jangan hanya melihat foto di media sosial atau brosur promosi.

Jika memungkinkan, kunjungi langsung proyek yang telah selesai maupun yang sedang dikerjakan.

Perhatikan beberapa hal berikut.

Kualitas Finishing

Lihat apakah hasil pekerjaan rapi.

Misalnya:

  • pemasangan keramik,
  • pengecatan,
  • kusen,
  • plafon,
  • hingga detail-detail kecil lainnya.

Sering kali kualitas sebuah kontraktor justru terlihat dari penyelesaian bagian akhir bangunan.

Ketepatan Waktu

Tanyakan kepada pemilik proyek sebelumnya.

Apakah pembangunan selesai sesuai jadwal?

Atau justru molor berbulan-bulan?

Kontraktor yang disiplin terhadap waktu biasanya memiliki sistem manajemen proyek yang lebih baik.

Cara Mengelola Tim

Perhatikan bagaimana kontraktor mengatur pekerjanya.

Apakah pekerjaan terlihat terorganisasi?

Apakah area proyek tertata dengan baik?

Manajemen lapangan sering kali mencerminkan kualitas perusahaan secara keseluruhan.

Mintalah Testimoni Pemilik Proyek Sebelumnya

Jangan ragu bertanya kepada klien terdahulu.

Misalnya mengenai:

  • komunikasi selama proyek,
  • kemudahan koordinasi,
  • penyelesaian komplain,
  • hingga kepuasan terhadap hasil akhir.

Pengalaman orang yang pernah menggunakan jasa kontraktor biasanya jauh lebih objektif dibandingkan materi promosi mereka sendiri.

SPK (Surat Perintah Kerja) Bukan Formalitas

Banyak proyek bermasalah bukan karena kontraktornya buruk.

Masalah muncul karena sejak awal tidak ada kesepakatan yang jelas.

Masih banyak orang berpikir:

"Kita sudah saling kenal."

"Dia orangnya amanah."

"Tidak usah pakai kontrak."

Padahal justru di sinilah awal munculnya banyak konflik.

Dalam proyek konstruksi, SPK (Surat Perintah Kerja) bukan sekadar dokumen administrasi.

SPK adalah dasar hukum sekaligus pedoman kerja bagi kedua belah pihak.

Minimal SPK harus memuat:

  • ruang lingkup pekerjaan,
  • nilai proyek,
  • jadwal pelaksanaan,
  • metode pembayaran,
  • spesifikasi material,
  • mekanisme perubahan pekerjaan,
  • penyelesaian apabila terjadi perselisihan.

Semakin rinci isi SPK, semakin kecil peluang munculnya kesalahpahaman.

Dalam perspektif syariah, kejelasan akad seperti ini juga membantu menghindari unsur gharar, yaitu ketidakjelasan yang dapat merugikan salah satu pihak.

Spesifikasi Material Harus Sangat Detail

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menggunakan istilah yang terlalu umum.

Contohnya:

"Pakai material yang bagus."

"Gunakan kualitas standar."

Masalahnya, kata bagus atau standar mempunyai arti yang berbeda bagi setiap orang.

Bagi pemilik proyek, standar bisa berarti kualitas premium.

Bagi kontraktor, standar bisa berarti kualitas paling ekonomis.

Akibatnya:

  • pemilik merasa kualitas bangunan tidak sesuai,
  • kontraktor merasa sudah mengerjakan sesuai permintaan,
  • dan konflik pun sulit dihindari.

Karena itu, seluruh spesifikasi sebaiknya ditulis secara rinci.

Misalnya:

  • merek semen,
  • jenis besi,
  • ukuran baja,
  • tipe keramik,
  • kualitas cat,
  • jenis atap,
  • hingga spesifikasi instalasi listrik.

Semakin detail spesifikasi yang dibuat, semakin mudah kontraktor melaksanakan pekerjaan dan semakin kecil risiko perselisihan.

Pelajaran Mahal: Bangun Dua Kali karena Gambar Kerja Tidak Lengkap

Banyak orang menganggap gambar kerja hanya formalitas. Padahal, gambar kerja adalah "bahasa" yang menghubungkan pemilik proyek, arsitek, dan kontraktor agar memiliki pemahaman yang sama.

Saya sendiri pernah mengalami pengalaman yang cukup mahal.

Saat membangun talud (dinding penahan tanah), spesifikasi material sebenarnya sudah disepakati. Jenis semen, besi, hingga ukuran pondasi sudah dibahas.

Namun ada satu hal yang terlewat.

Tidak ada gambar kerja yang detail.

Akibatnya, kontraktor membangun sesuai pemahamannya sendiri.

Hasil akhirnya ternyata tidak sesuai dengan yang saya bayangkan.

Di bagian tengah talud tidak dibuat kolom penguat sehingga struktur menjadi kurang kuat dan mulai mengalami retak.

Pilihannya hanya dua:

  • membiarkan bangunan berisiko rusak,
  • atau membongkar lalu membangun ulang.

Akhirnya saya memilih membangun ulang.

Konsekuensinya sangat besar.

  • Biaya menjadi dua kali lipat.
  • Waktu penyelesaian menjadi lebih lama.
  • Tenaga dan pikiran ikut terkuras.

Padahal, apabila sejak awal tersedia gambar kerja yang lengkap, kesalahan tersebut hampir pasti dapat dihindari.

Pelajaran ini menunjukkan bahwa biaya terbesar dalam proyek sering kali bukan berasal dari harga material, melainkan dari kesalahan perencanaan.

Mengapa Gambar Kerja Sangat Penting?

Banyak pemilik proyek merasa cukup menjelaskan keinginan mereka secara lisan.

Misalnya:

"Rumahnya dibuat minimalis."

"Taludnya dibuat kuat."

"Yang penting hasilnya bagus."

Masalahnya, setiap orang memiliki pemahaman yang berbeda terhadap kata-kata tersebut.

Kontraktor akan menerjemahkannya sesuai pengalaman masing-masing.

Di sinilah gambar kerja menjadi sangat penting.

Gambar kerja memberikan informasi yang jelas mengenai:

  • ukuran bangunan,
  • posisi kolom dan balok,
  • detail pondasi,
  • sistem struktur,
  • instalasi listrik,
  • instalasi air,
  • hingga detail finishing.

Dengan adanya gambar kerja, hampir seluruh pekerjaan memiliki standar yang dapat diikuti oleh kontraktor.

Akibatnya, peluang salah tafsir menjadi jauh lebih kecil.

Jangan Menganggap Biaya Arsitek Sebagai Pengeluaran

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan pemilik proyek adalah menganggap jasa arsitek sebagai biaya yang bisa dihemat.

Padahal kenyataannya justru sebaliknya.

Biaya arsitek sering kali merupakan investasi untuk mengurangi risiko kerugian yang jauh lebih besar.

Seorang arsitek dapat membantu:

  • membuat gambar kerja yang lengkap,
  • menyesuaikan desain dengan kondisi lahan,
  • menghitung kebutuhan ruang,
  • mengurangi potensi kesalahan konstruksi,
  • serta memudahkan kontraktor memahami pekerjaan yang harus dilakukan.

Tanpa gambar kerja yang baik, kontraktor akan lebih banyak mengambil keputusan sendiri di lapangan.

Semakin banyak keputusan yang harus ditebak, semakin besar pula risiko terjadinya kesalahan.

Dua Pilihan Kontraktor: Mana yang Lebih Tepat?

Secara umum, kontraktor dapat dibagi menjadi dua kelompok.

Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Yang terbaik bukan selalu yang paling mahal ataupun paling murah, tetapi yang paling sesuai dengan kebutuhan proyek Anda.

1. Kontraktor Perorangan (Non-Sipil)

Kontraktor jenis ini biasanya bekerja secara mandiri atau dalam tim kecil.

Sebagian besar memperoleh pengalaman langsung dari lapangan dan tidak selalu memiliki perusahaan berbadan hukum.

Untuk proyek tertentu, mereka dapat menjadi pilihan yang baik.

Kelebihan Kontraktor Perorangan

Biaya Lebih Terjangkau

Karena biaya operasional lebih kecil, harga jasa mereka biasanya lebih murah dibanding perusahaan kontraktor.

Hal ini sangat membantu bagi pemilik proyek dengan anggaran terbatas.

Fleksibel dalam Pengambilan Keputusan

Komunikasi berlangsung langsung dengan pemilik kontraktor.

Perubahan kecil di lapangan biasanya dapat diputuskan lebih cepat tanpa birokrasi yang panjang.

Cocok untuk Proyek Skala Kecil

Misalnya:

  • rumah satu lantai,
  • renovasi rumah,
  • kios,
  • ruko kecil,
  • pagar,
  • atau talud.

Pada proyek seperti ini, kontraktor perorangan sering kali mampu memberikan hasil yang baik dengan biaya yang lebih efisien.

Kekurangan Kontraktor Perorangan

Di balik biaya yang lebih murah, terdapat beberapa risiko yang perlu dipahami.

Sistem Manajemen Belum Selalu Rapi

Sebagian kontraktor bekerja berdasarkan pengalaman tanpa didukung sistem administrasi yang kuat.

Akibatnya:

  • pencatatan proyek kurang lengkap,
  • jadwal pekerjaan mudah berubah,
  • dokumentasi tidak tertata.

Perhitungan RAB Kurang Detail

Beberapa kontraktor hanya menggunakan pendekatan harga per meter persegi.

Padahal setiap proyek memiliki kondisi yang berbeda.

Perhitungan yang kurang rinci dapat menyebabkan biaya membengkak di tengah pekerjaan.

Pengawasan Lebih Banyak Dilakukan Pemilik

Jika memilih kontraktor jenis ini, pemilik proyek sebaiknya tidak sepenuhnya pasif.

Semakin sering proyek dipantau, semakin kecil peluang munculnya kesalahan yang terlambat disadari.

Jika Memilih Kontraktor Perorangan, Anda Harus Memahami Dasar Konstruksi

Bukan berarti Anda harus menjadi insinyur sipil.

Namun setidaknya pahami beberapa hal dasar, seperti:

  • urutan pekerjaan konstruksi,
  • jenis material yang digunakan,
  • cara membaca progres pekerjaan,
  • dan perhitungan volume sederhana.

Dengan bekal tersebut, Anda dapat berdiskusi lebih efektif dengan kontraktor sekaligus mengurangi risiko kesalahan yang tidak disadari.

2. Kontraktor Berbadan Hukum

Berbeda dengan kontraktor perorangan, kontraktor berbadan hukum umumnya memiliki struktur organisasi yang lebih lengkap.

Di dalamnya terdapat:

  • manajer proyek,
  • engineer,
  • arsitek,
  • supervisor,
  • hingga staf administrasi.

Karena itu, sistem kerja mereka biasanya lebih terstruktur.

Kelebihan Kontraktor Berbadan Hukum

Perencanaan Lebih Matang

Sebelum pekerjaan dimulai, biasanya dilakukan penyusunan:

  • gambar kerja,
  • RAB,
  • jadwal proyek,
  • hingga metode pelaksanaan.

Hal ini membuat proyek lebih mudah dikendalikan.

Pengendalian Kualitas Lebih Baik

Perusahaan kontraktor umumnya memiliki standar mutu yang harus dipenuhi.

Setiap tahapan pekerjaan diperiksa sehingga kualitas bangunan lebih konsisten.

Dokumentasi Lebih Lengkap

Seluruh perubahan pekerjaan, progres proyek, hingga laporan keuangan biasanya terdokumentasi dengan baik.

Hal ini memudahkan pemilik proyek melakukan evaluasi apabila diperlukan.

Kekurangan Kontraktor Berbadan Hukum

Tentu saja ada konsekuensinya.

Biaya Lebih Tinggi

Karena memiliki organisasi yang lebih besar, biaya operasional perusahaan juga lebih tinggi.

Hal tersebut berpengaruh terhadap harga jasa yang ditawarkan.

Proses Keputusan Lebih Lama

Setiap perubahan pekerjaan biasanya harus melalui prosedur tertentu sehingga tidak secepat kontraktor perorangan.

Namun di sisi lain, prosedur tersebut justru membantu menjaga kualitas dan mengurangi kesalahan.

Kapan Sebaiknya Memilih Masing-Masing Kontraktor?

Setiap proyek memiliki tingkat kompleksitas yang berbeda. Karena itu, tidak ada satu jenis kontraktor yang selalu paling baik untuk semua kondisi.

Yang terpenting adalah memilih kontraktor yang sesuai dengan skala proyek, anggaran, dan tingkat risiko pembangunan.

Kontraktor Perorangan Cocok Jika:

  • membangun rumah 1 lantai,
  • renovasi rumah,
  • membuat ruko sederhana,
  • membangun gudang kecil,
  • atau proyek dengan anggaran yang terbatas.

Kontraktor jenis ini umumnya lebih fleksibel dan biaya jasanya lebih rendah. Namun, pemilik proyek perlu lebih aktif mengawasi jalannya pekerjaan.

Kontraktor Berbadan Hukum Cocok Jika:

  • membangun rumah bertingkat,
  • perumahan,
  • gedung komersial,
  • proyek developer,
  • atau proyek bernilai besar.

Pada proyek seperti ini, sistem kerja yang lebih terstruktur biasanya mampu mengurangi berbagai risiko yang dapat menimbulkan kerugian besar.

Gunakan Pengawas Eksternal Jika Anggaran Memungkinkan

Banyak pemilik proyek mengira kontraktor sudah cukup untuk memastikan semuanya berjalan baik.

Padahal dalam proyek bernilai besar, menggunakan pengawas independen bisa menjadi keputusan yang sangat menguntungkan.

Tugas pengawas bukan mengambil alih pekerjaan kontraktor, melainkan memastikan seluruh pekerjaan sesuai dengan perencanaan.

Beberapa tanggung jawab pengawas antara lain:

  • memeriksa kualitas pekerjaan,
  • memastikan spesifikasi material sesuai kontrak,
  • mengecek progres pembangunan,
  • mengawasi metode pelaksanaan,
  • serta memberikan laporan kepada pemilik proyek.

Biaya tambahan untuk pengawas memang ada.

Namun dibandingkan potensi kerugian akibat kesalahan konstruksi, biaya tersebut sering kali jauh lebih kecil.

Perspektif Syariah dalam Memilih Kontraktor

Dalam Islam, keberhasilan sebuah proyek tidak hanya diukur dari bangunan yang berdiri kokoh.

Cara membangun proyek tersebut juga harus sesuai dengan prinsip syariah.

Karena itu, setiap kerja sama dengan kontraktor sebaiknya menghindari unsur-unsur yang dilarang, seperti:

  • gharar (ketidakjelasan akad),
  • penipuan,
  • penyembunyian informasi,
  • maupun tindakan yang merugikan salah satu pihak.

Allah berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya."
(QS. Al-Baqarah: 282)

Ayat ini menunjukkan pentingnya kejelasan dalam setiap bentuk akad, termasuk kontrak pembangunan.

Karena itu, beberapa hal berikut sebaiknya selalu dibuat secara tertulis:

  • ruang lingkup pekerjaan,
  • spesifikasi material,
  • jadwal pelaksanaan,
  • termin pembayaran,
  • perubahan pekerjaan,
  • hingga mekanisme penyelesaian apabila terjadi perselisihan.

Semakin jelas akad yang dibuat, semakin besar peluang proyek berjalan lancar dan penuh keberkahan.

Checklist Sebelum Memilih Kontraktor

Sebelum menandatangani kontrak, pastikan Anda telah melakukan pemeriksaan berikut.

✓ Melihat proyek yang pernah dikerjakan.

✓ Menghubungi klien sebelumnya.

✓ Memastikan kontraktor memiliki pengalaman pada jenis proyek yang sama.

✓ Menggunakan gambar kerja dari arsitek.

✓ Membuat SPK atau kontrak kerja secara tertulis.

✓ Menuliskan spesifikasi material secara rinci.

✓ Menentukan jadwal pelaksanaan proyek.

✓ Menyepakati sistem pembayaran dan termin.

✓ Menentukan mekanisme apabila terjadi perubahan pekerjaan.

✓ Menyiapkan dokumentasi seluruh proses pembangunan.

Checklist sederhana ini dapat mengurangi banyak risiko yang sering dialami oleh pemilik proyek pemula.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Pemilik Proyek

Selain salah memilih kontraktor, ada beberapa kesalahan lain yang sering menyebabkan proyek mengalami pembengkakan biaya.

Di antaranya:

  • memilih kontraktor hanya karena harga paling murah,
  • tidak membuat kontrak tertulis,
  • spesifikasi material terlalu umum,
  • tidak menggunakan gambar kerja,
  • jarang mengawasi proyek,
  • terlalu sering mengubah desain saat pembangunan berlangsung,
  • serta tidak menyiapkan dana cadangan untuk kebutuhan tak terduga.

Kesalahan-kesalahan tersebut mungkin terlihat kecil di awal, tetapi dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar ketika proyek sudah berjalan.

Catatan dari Founder SekolahUMKM

Selama mendampingi pelaku UMKM yang mulai membangun ruko, gudang, maupun proyek properti sederhana, saya melihat satu pola yang terus berulang.

Banyak orang menghabiskan waktu berminggu-minggu mencari kontraktor dengan harga paling murah, tetapi hanya beberapa menit membaca isi kontrak kerjanya.

Padahal dalam proyek konstruksi, kerugian terbesar biasanya bukan berasal dari selisih harga, melainkan dari kesalahan sistem, spesifikasi yang tidak jelas, dan lemahnya pengawasan.

Karena itu, sebelum membangun bangunan, bangunlah terlebih dahulu sistem kerjanya.

Belajar Bisnis Properti dan Manajemen Proyek di SekolahUMKM.com

Memilih kontraktor hanyalah satu bagian dari perjalanan membangun bisnis properti.

Masih banyak hal lain yang perlu dipahami, mulai dari menghitung kelayakan proyek, menyusun anggaran, mengelola pembangunan, hingga memahami akad-akad syariah agar seluruh proses berjalan dengan benar.

Masalahnya, pengetahuan seperti ini jarang dijelaskan secara runtut di konten-konten singkat atau media sosial. Padahal satu kesalahan kecil dalam proyek bisa menyebabkan kerugian puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Kalau Anda ingin:

  • memahami dasar bisnis properti dari nol,
  • belajar memilih kontraktor dan mengelola proyek dengan lebih percaya diri,
  • mengetahui prinsip transaksi properti yang sesuai syariah,
  • atau sedang mempersiapkan diri menjadi developer properti,

Anda bisa mulai belajar di SekolahUMKM.com.

Dengan biaya hanya sekitar Rp50.000 per bulan, Anda dapat mengakses ratusan kelas bisnis yang disusun secara bertahap, praktis, dan relevan dengan kondisi pelaku UMKM di Indonesia.

Tidak perlu menunggu memiliki proyek besar.

Justru semakin awal memahami sistem yang benar, semakin kecil risiko melakukan kesalahan yang mahal di kemudian hari.

Kesimpulan

Memilih kontraktor bukan sekadar mencari penyedia jasa pembangunan, tetapi memilih mitra yang akan menentukan kualitas, biaya, dan keberhasilan proyek Anda.

Lakukan evaluasi berdasarkan rekam jejak, gunakan gambar kerja yang jelas, buat SPK secara tertulis, serta tentukan spesifikasi material secara rinci. Langkah-langkah sederhana ini dapat mengurangi risiko keterlambatan proyek, pembengkakan biaya, maupun sengketa selama pembangunan.

Bagi seorang muslim, profesionalitas dan kepatuhan terhadap prinsip syariah berjalan beriringan. Proyek yang baik bukan hanya menghasilkan bangunan yang kokoh, tetapi juga dibangun melalui akad yang jelas, transparan, dan adil bagi semua pihak.

Karena dalam dunia konstruksi, keputusan yang paling menguntungkan bukan selalu memilih yang paling murah, melainkan memilih sistem yang paling benar sejak awal.

FAQ

1. Apakah memilih kontraktor yang lebih mahal selalu lebih baik?

Belum tentu. Yang terpenting adalah kesesuaian antara pengalaman kontraktor, sistem kerja, kualitas hasil, dan kebutuhan proyek Anda. Harga murah maupun mahal tetap harus disertai evaluasi yang objektif.

2. Apakah proyek kecil perlu menggunakan gambar kerja?

Sangat disarankan. Gambar kerja membantu menyamakan pemahaman antara pemilik proyek dan kontraktor sehingga mengurangi risiko kesalahan selama pembangunan.

3. Mengapa SPK penting dalam proyek konstruksi?

SPK menjadi dasar kesepakatan mengenai ruang lingkup pekerjaan, spesifikasi material, jadwal, biaya, dan tanggung jawab masing-masing pihak. Dokumen ini juga membantu menghindari sengketa di kemudian hari.

4. Apakah kontraktor perorangan boleh digunakan?

Boleh. Kontraktor perorangan dapat menjadi pilihan yang baik untuk proyek kecil, selama memiliki rekam jejak yang baik, kontrak yang jelas, dan pengawasan yang memadai.

5. Bagaimana memilih kontraktor agar sesuai prinsip syariah?

Pastikan seluruh akad dilakukan secara jelas, tidak ada unsur gharar (ketidakjelasan), seluruh spesifikasi ditulis secara rinci, serta hak dan kewajiban kedua belah pihak disepakati sejak awal.

Artikel

Baca Artikel Lainnya

Thumbnail
30 Dampak Harta Haram

Rasulullah telah mengingatkan umatnya sejak 1.400 tahun lalu kalau fitnah harta dunia akan datang dan akibatnya umatnya lalai mempersiapkan bekal pahala untuk akhiratnya. Maka yang terjadi sebaliknya,...

15 Oct 2024

Thumbnail
Hidup Nikmat Ala Pegawai Bank Ribawi

​​​​​​Namanya sebut saja Maya. Ia seorang mahasiswi semester satu di salah satu universitas ternama di Indonesia yang senang berpikir panjang. Rasanya tak sabar ingin segera menyelesaikan kuliah supay...

Yudha Adhyaksa

14 Oct 2024

Thumbnail
Jadi Pegawai Atau Pengusaha?

“Mana bisa kaya kalau masih digaji orang lain??” “Gimana mau bebas finansial kalau masih pegawai. Setinggi apapun jabatan pegawai tetaplah (maaf) JONGOS!” “Ngapain kamu...

Yudha Adhyaksa

13 Oct 2024

Daftar Sekarang

Ilmu Pengusaha Syariah

Terlengkap

Dapatkan semua Kelas baru gratis
dengan berlangganan

Langganan Sekarang Image