Artikel
Yudha Adhyaksa
13 Aug 2026
Ini masalah yang sering banget kejadian di pelaku UMKM.
Jualan jalan.
Order masuk.
Kadang bahkan lagi ramai-ramainya.
Tapi begitu dicek:
Akhirnya mulai muncul pikiran, “Kayaknya bisnis saya nggak berkembang.”
Padahal sering kali bukan bisnisnya yang salah.
Masalah utamanya ada di cara mengelola keuangan.
Banyak pelaku UMKM fokusnya di:
Tapi lupa satu hal yang justru paling krusial, yaitu keuangan.
Kalau keuangan tidak rapi, bisnis yang harusnya untung bisa terasa seperti jalan di tempat, bahkan tanpa sadar bisa rugi.
Masalahnya sebenarnya sederhana, tapi sering diremehkan.
Dari materi yang kamu pelajari:
Setiap pemasukan dan pengeluaran harus dicatat.
Kedengarannya basic. Tapi justru di sinilah banyak yang gagal.
Di lapangan sering terjadi:
Akibatnya:
Akhirnya bisnis jalan, tapi arah tidak jelas.
Kalau keuangan bisnis kamu masih berantakan, jangan langsung ribet. Mulai dari hal paling dasar dulu.
Ini bukan sekadar saran, tapi keharusan.
Setiap uang yang masuk dan keluar harus dicatat, sekecil apapun nilainya.
Contoh sederhana:
Jangan berpikir, “Ah ini kecil.”
Justru pengeluaran kecil yang sering tidak terasa itu yang lama-lama jadi besar.
Kalau tidak dicatat, kamu tidak akan pernah sadar ke mana uangmu pergi.
Di awal mungkin masih bisa manual.
Kamu bisa pakai:
Kalau bisnis mulai ramai, mulai pertimbangkan:
Tujuannya bukan biar keren, tapi biar:
Banyak pelaku UMKM tidak tahu kondisi kasnya sendiri.
Tahu-tahu:
Padahal seharusnya kamu tahu:
Minimal lakukan:
Banyak orang fokus ke omzet.
Padahal yang lebih penting adalah arus kas.
Arus kas itu sederhana:
Kalau uang keluar lebih besar dari uang masuk, ya habis.
Banyak yang bilang, “Yang penting untung.”
Masalahnya, untung itu bisa hanya di atas kertas.
Contoh:
Sementara:
Secara laporan kamu untung, tapi uangnya tidak ada.
Itulah kenapa banyak bisnis terlihat sehat tapi tiba-tiba tumbang.
Mulai dari yang praktis:
Dari situ kamu bisa lihat:
Banyak UMKM berjalan tanpa rencana.
Hari ini jualan, besok lihat hasil.
Padahal kamu perlu mulai memperkirakan ke depan.
Misalnya bulan depan:
Pemasukan:
Pengeluaran:
Sisa:
Dari sini kamu bisa ambil keputusan:
Setiap bisnis punya pola.
Contoh:
Kalau kamu tahu polanya:
Kalau tidak tahu:
Ini poin yang kelihatannya sederhana, tapi paling sulit dilakukan.
Jangan mengeluarkan uang jika kas tidak mencukupi.
Di lapangan sering terjadi:
Kalau tidak balik?
Masalah mulai muncul.
Ini terlihat sederhana, tapi kalau kamu disiplin, dampaknya besar sekali.
Kondisi:
Masalah:
Perubahan:
Hasil:
Kondisi:
Masalah:
Perubahan:
Hasil:
Kondisi:
Masalah:
Perubahan:
Hasil:
Kondisi:
Masalah:
Perubahan:
Hasil:
Kondisi:
Masalah:
Perubahan:
Hasil:
Akibatnya:
Akibatnya:
Akibatnya:
Akibatnya:
Akibatnya:
Banyak orang berpikir:
“Yang penting jualan dulu.”
Padahal yang lebih penting adalah:
“Uangnya kepegang atau tidak.”
Karena:
Kalau kamu bingung harus mulai dari mana, lakukan ini dulu:
Tidak perlu langsung sempurna.
Yang penting mulai dan konsisten.
Coba jawab jujur ke diri sendiri:
Kamu benar-benar tahu berapa keuntungan bisnismu bulan ini?
Atau masih sekadar merasa “kayaknya ada untung”?
Kalau masih kira-kira, berarti keuanganmu belum sehat.
Dan kalau dibiarkan, ini bisa jadi masalah besar ke depan.
Kalau kamu ingin belajar lebih dalam tapi tetap dengan cara yang ringan dan praktis, kamu bisa pelan-pelan ikut pembelajaran di SekolahUMKM.com.
Di sana kamu akan belajar:
Biayanya sekitar 50 ribu per bulan.
Tidak perlu langsung sempurna.
Mulai saja dari yang sederhana.
Yang penting kamu tidak jalan sendirian.
Keuangan UMKM adalah cara mengelola seluruh uang yang masuk dan keluar dalam bisnis, mulai dari penjualan, biaya operasional, pembelian stok, gaji, hingga keuntungan.
Karena omzet bukan keuntungan. Uang bisa habis untuk stok, gaji, sewa, biaya marketing, operasional, atau pengeluaran lain yang tidak tercatat dan tidak terkontrol.
Ya. Setiap pemasukan dan pengeluaran bisnis sebaiknya dicatat, termasuk transaksi kecil, agar pemilik usaha mengetahui kondisi keuangan yang sebenarnya.
Bisa dimulai menggunakan buku catatan, Excel, atau Google Sheets. Catat tanggal, jenis transaksi, uang masuk, uang keluar, dan saldo secara rutin.
Karena mencampur keduanya membuat pemilik usaha sulit mengetahui apakah bisnis benar-benar menghasilkan keuntungan atau justru mengalami kerugian.
Arus kas adalah pergerakan uang masuk dan uang keluar dari bisnis. Cash flow yang sehat membantu bisnis tetap mampu membayar kebutuhan operasional tepat waktu.
Bisa. Bisnis mungkin mencatat keuntungan, tetapi uangnya belum diterima karena pelanggan belum membayar, sementara biaya seperti gaji, stok, dan operasional tetap harus dikeluarkan.
Idealnya, cek kas dilakukan secara rutin. Saldo dapat dipantau setiap hari, transaksi direkap mingguan, dan kondisi bisnis dievaluasi setiap bulan.
Beberapa kesalahan yang umum adalah tidak mencatat transaksi, mencampur uang pribadi dan bisnis, tidak membuat perencanaan keuangan, serta mengeluarkan uang tanpa mempertimbangkan kondisi kas.
Mulailah dari langkah sederhana: catat semua transaksi, pisahkan uang bisnis dan pribadi, ketahui saldo yang tersedia, kontrol pengeluaran, lalu lakukan evaluasi secara rutin.
Artikel
Inilah yang Perlu Anda Perhatikan Saat Menggunakan Akad Ijarah Dalam dunia bisnis syariah, ada banyak akad atau perjanjian yang digunakan untuk memastikan seluruh transaksi berjalan halal, adil, da...
Yudha Adhyaksa
20 Jul 2026
Kenapa Banyak UMKM Salah Jalan Tanpa Sadar? Banyak pelaku UMKM di Indonesia semangat jualan, tapi sering bingung soal halal-haram dalam transaksi. Contoh paling sederhana: Boleh nggak ambi...
Yudha Adhyaksa
20 Jul 2026
TANYA PROPERTI: Setelah konsumen bayar DP 30% kenapa kok harus bangun rumahnya setelah 5 bulan? Untuk menjawab pertanyaan konsumen kenapa tidak langsung di mulai pembangunan rumahnya? Terima kasih...
Yudha Adhyaksa
11 Feb 2026
Daftar Sekarang
Dapatkan semua Kelas baru gratis
dengan berlangganan