background

Artikel

Cara Membuat Konten untuk Jualan agar Tidak Hanya Promosi Produk

Yudha Adhyaksa

16 Aug 2026

Cover

Banyak pertanyaan yang masuk tentang bagaimana membuat konten untuk jualan.

“Kira-kira konten apa yang harus dibuat untuk jualan?”

Pertanyaan ini sebenarnya sangat sering muncul, terutama ketika produk yang dijual terlihat sederhana.

Misalnya Anda menjual spidol warna, color pen, planner, memo, atau alat tulis lainnya.

Awalnya mungkin Anda berpikir:

“Kalau saya jual pena, saya harus bikin konten tentang apa?”

Kalau saya jual planner, apakah setiap hari harus membahas planner?

Kalau saya jual memo, apakah kontennya harus terus-menerus tentang memo?

Atau misalnya Anda menjual ban. Masa setiap hari kontennya hanya tentang ban?

Di sinilah banyak penjual akhirnya kehabisan ide.

Karena mereka berpikir bahwa konten harus selalu membahas produk yang dijual.

Padahal sebenarnya tidak demikian.

Produk Anda tidak harus menjadi satu-satunya isi dari konten.

Justru salah satu cara membuat konten untuk jualan adalah mencari sebuah cerita, masalah, atau kebutuhan yang lebih besar, kemudian memasukkan produk Anda ke dalam cerita tersebut.

Jangan Mulai dari Pertanyaan “Saya Harus Membuat Konten Apa tentang Produk Ini?”

Coba ubah cara berpikirnya.

Jangan langsung bertanya:

“Kalau saya jual pena, saya harus bikin konten tentang apa?”

Tetapi tanyakan:

“Pena ini bisa menjadi bagian dari cerita tentang apa?”

“Produk ini membantu orang melakukan apa?”

“Produk ini cocok dimasukkan ke dalam kebutuhan seperti apa?”

Ini perbedaannya.

Kalau Anda hanya melihat produk sebagai produk, ide konten akan terasa sangat terbatas.

Tetapi kalau Anda melihat produk sebagai bagian dari kehidupan, aktivitas, masalah, atau kebutuhan pelanggan, kemungkinan kontennya menjadi jauh lebih banyak.

Contoh Membuat Konten dari Produk Sederhana

Misalnya Anda menjual planner dan color pen.

Anda mungkin merasa produk tersebut sangat sederhana.

Lalu muncul pertanyaan:

“Memangnya saya bisa membuat konten apa dari planner dan pena warna?”

Mari kita lihat dari sudut pandang yang berbeda.

Bayangkan Anda menemukan sebuah artikel atau konten tentang berbagai hal yang dapat membantu seseorang menjadi lebih produktif.

Konten tersebut tidak hanya membahas satu produk.

Di dalamnya mungkin ada berbagai rekomendasi.

  • Misalnya desk organizer.
  • Kemudian lampu meja.
  • Noise-cancelling headphones.
  • Aplikasi Pomodoro.
  • Standing desk untuk laptop.
  • Essential oil.
  • Fitbit.
  • Notebook.
  • Coffee maker.
  • Chrome extension.
  • Dan di antara berbagai rekomendasi tersebut, ada planner dan color pen.

Nah, misalnya produk yang benar-benar Anda jual hanya planner dan color pen.

Apakah Anda hanya boleh membahas dua produk itu?

Tidak.

Justru Anda bisa membuat sebuah konten yang lebih besar tentang bagaimana seseorang dapat meningkatkan produktivitasnya.

Planner dan color pen menjadi bagian dari cerita tersebut.

Produk Lain Tidak Harus Menjadi Produk Anda

Ini bagian yang penting.

Dalam sebuah konten, tidak semua hal yang dibahas harus Anda jual sendiri.

Misalnya Anda membuat konten tentang cara meningkatkan produktivitas.

Anda bisa membahas aplikasi Pomodoro meskipun aplikasinya gratis.

Anda bisa membahas Chrome extension meskipun itu hanya sebuah software.

Anda bisa membahas standing desk, essential oil, headphone, atau coffee maker meskipun produk tersebut bukan milik Anda.

Kalau memang relevan, beberapa produk bahkan bisa menjadi referral, affiliate, atau produk yang Anda jual kembali sebagai reseller.

Tetapi sekalipun Anda tidak mendapatkan apa-apa dari produk tersebut, keberadaannya tetap dapat membuat konten Anda menjadi lebih lengkap.

Audiens tidak merasa Anda hanya sedang mencari alasan untuk menjual satu produk.

Mereka mendapatkan sebuah panduan atau rekomendasi yang lebih utuh.

Dan di dalam solusi yang lengkap tersebut, produk Anda memiliki tempat yang natural.

Produk Anda Tidak Harus Menjadi Tokoh Utama

Misalnya Anda menjual color pen.

Anda bisa saja membuat konten:

“Kenapa Color Pen Ini Bagus.”

Tentu itu bisa dilakukan.

Tetapi pilihan kontennya akan cepat terbatas.

Sekarang bandingkan dengan konten:

“15 Hal yang Bisa Membantu Anda Merencanakan Hari dengan Lebih Baik.”

Di dalamnya Anda bisa membahas:

  • Planner

  • Color pen

  • To-do list

  • Aplikasi kalender

  • Teknik Pomodoro

  • Notifikasi pengingat

  • Meja kerja yang rapi

  • Notebook

  • Chrome extension

  • Cara menentukan prioritas pekerjaan

Dari sepuluh atau lima belas hal tersebut, mungkin hanya planner dan color pen yang Anda jual.

Tetapi justru karena produk Anda menjadi bagian dari sebuah solusi yang lebih besar, orang dapat melihat konteks mengapa produk tersebut dibutuhkan.

Anda tidak lagi hanya berkata:

“Ini color pen. Silakan beli.”

Anda membantu orang memahami:

“Saya ingin merencanakan pekerjaan dengan lebih baik. Apa saja yang saya butuhkan?”

Dan salah satu jawabannya bisa jadi adalah produk Anda.

Cari Cerita Tempat Produk Anda Bisa Masuk

Inilah tugas utama ketika membuat konten untuk jualan.

Bukan hanya memikirkan:

“Bagaimana cara mempromosikan produk saya?”

Tetapi:

“Produk saya cocok masuk ke cerita apa?”

Misalnya Anda menjual planner.

Planner bisa masuk ke berbagai cerita:

Planner untuk Produktivitas

Anda bisa membuat konten tentang bagaimana seseorang mengatur pekerjaan agar tidak merasa sibuk sepanjang hari tetapi tidak menghasilkan apa-apa.

Di dalamnya, planner menjadi salah satu alat yang digunakan.

Planner untuk Mencapai Target

Anda bisa membuat konten tentang bagaimana memecah target besar menjadi target bulanan, mingguan, dan harian.

Planner kembali menjadi bagian dari solusi.

Planner untuk Mengatur Kehidupan

Kontennya bisa membahas bagaimana mengatur jadwal kerja, keluarga, olahraga, atau aktivitas pribadi.

Produk yang sama, tetapi ceritanya berbeda.

Planner untuk Membangun Kebiasaan

Anda bisa membahas habit tracking, konsistensi, dan bagaimana seseorang memantau kebiasaan yang sedang dibangun.

Produk yang dijual tetap sama.

Tetapi sudut kontennya bisa terus berkembang.

Kalau Produk Anda Adalah Pena atau Color Pen

Pena juga tidak harus selalu diceritakan sebagai sebuah pena.

Anda bisa memasukkannya ke dalam konten tentang:

Cara Membuat Catatan Lebih Mudah Dibaca

Color pen dapat digunakan untuk membedakan informasi penting.

Cara Membuat Perencanaan Lebih Menarik

Warna dapat digunakan untuk membedakan pekerjaan, target, jadwal, atau prioritas.

Cara Membuat Bullet Journal

Color pen menjadi bagian dari aktivitas journaling.

Cara Belajar Lebih Terstruktur

Produk dapat masuk ke dalam pembahasan tentang membuat catatan, merangkum materi, atau mengorganisasi informasi.

Sekali lagi, produknya tidak berubah.

Yang berubah adalah cerita di sekitarnya.

Buat Konten yang Memberikan Solusi Lebih Lengkap

Kesalahan yang sering terjadi adalah membuat konten terlalu sempit.

Misalnya:

“Saya jual planner, maka semua konten saya tentang planner.”

Akibatnya, audiens hanya melihat Anda sebagai orang yang terus-menerus berbicara tentang produknya sendiri.

Coba buat konten yang lebih lengkap.

Misalnya topiknya:

“10 Hal yang Membantu Anda Lebih Produktif Saat Bekerja.”

Di dalamnya mungkin ada:

  1. Planner untuk merencanakan pekerjaan.

  2. Aplikasi Pomodoro untuk mengatur waktu fokus.

  3. Noise-cancelling headphones untuk mengurangi gangguan.

  4. Desk organizer untuk membuat meja lebih rapi.

  5. Chrome extension untuk mengurangi distraksi.

  6. Notebook untuk mencatat ide.

  7. Color pen untuk mengatur prioritas secara visual.

  8. Pencahayaan yang nyaman.

  9. Pengaturan jadwal istirahat.

  10. Sistem menentukan pekerjaan yang paling penting.

Sekarang lihat.

Produk Anda mungkin hanya nomor satu dan nomor tujuh.

Tetapi orang mendapatkan keseluruhan cerita.

Mereka merasa:

“Oh, kalau saya ingin lebih produktif, ternyata ada beberapa hal yang bisa saya lakukan.”

Dalam kondisi seperti itu, produk Anda tidak muncul sebagai promosi yang dipaksakan.

Produk Anda muncul sebagai bagian dari solusi.

Anda Bisa Membahas Produk yang Tidak Anda Jual

Jangan takut membahas hal lain yang relevan dengan audiens Anda.

Misalnya Anda menjual planner, lalu dalam konten Anda membahas aplikasi Pomodoro.

Anda tidak menjual aplikasi tersebut.

Tidak masalah.

Atau Anda membahas Chrome extension yang gratis.

Tidak masalah.

Atau Anda merekomendasikan essential oil, coffee maker, headphone, atau standing desk.

Produk tersebut juga mungkin bukan produk utama Anda.

Tetapi semuanya membantu membangun sebuah cerita yang lebih lengkap.

Bahkan jika ada kesempatan, beberapa produk tersebut dapat dikembangkan menjadi:

  • Produk affiliate

  • Referral

  • Kerja sama dengan brand lain

  • Produk reseller

Artinya, dari satu ide konten, Anda bahkan bisa membuka peluang bisnis lain.

Tetapi inti utamanya tetap sama.

Konten harus berguna terlebih dahulu.

Cara Menemukan Cerita untuk Produk yang Anda Jual

Kalau sekarang Anda masih bingung, coba lakukan latihan sederhana.

Ambil produk yang Anda jual.

Kemudian tanyakan beberapa pertanyaan berikut.

Produk Ini Membantu Orang Melakukan Apa?

Contohnya planner.

Planner membantu orang:

  • Merencanakan

  • Mengatur waktu

  • Mencatat target

  • Mengatur pekerjaan

  • Memantau kebiasaan

Dari setiap jawaban tersebut, Anda sudah mendapatkan banyak kemungkinan ide konten.

Produk Ini Digunakan Dalam Situasi Apa?

Misalnya color pen digunakan ketika seseorang:

  • Belajar

  • Membuat catatan

  • Journaling

  • Membuat perencanaan

  • Menentukan prioritas

Setiap situasi dapat menjadi cerita yang berbeda.

Masalah Apa yang Bisa Diselesaikan Produk Ini?

Produk yang sama mungkin dapat membantu menyelesaikan masalah yang berbeda.

Planner, misalnya, dapat dikaitkan dengan masalah:

  • Sering lupa pekerjaan

  • Tidak punya prioritas

  • Target tidak tercapai

  • Jadwal berantakan

  • Merasa sibuk tetapi tidak produktif

Dari satu produk, Anda bisa menemukan banyak masalah.

Dan dari setiap masalah, Anda bisa membuat banyak konten.

Jangan Hanya Promosi, Bantu Audiens Memahami Kebutuhannya

Ini bagian yang paling menarik.

Kadang orang belum merasa membutuhkan produk Anda.

Kalau Anda langsung berkata:

“Beli planner ini.”

Mereka mungkin berpikir:

“Memangnya saya butuh?”

Tetapi bayangkan mereka membaca konten tentang bagaimana seseorang dapat mengatur pekerjaan, menentukan prioritas, dan merencanakan target.

Setelah membaca seluruh konten, mereka mulai memahami:

“Saya memang sering lupa pekerjaan.”

“Saya tidak punya sistem untuk mengatur target.”

“Saya butuh cara supaya pekerjaan lebih teratur.”

Pada titik tersebut, planner tidak lagi sekadar sebuah produk.

Planner menjadi sesuatu yang memiliki fungsi dalam masalah yang sedang mereka sadari.

Itulah kekuatan dari membuat konten berdasarkan cerita dan kebutuhan.

Satu Produk Bisa Menghasilkan Banyak Ide Konten

Jangan berpikir:

“Saya hanya jual satu produk. Berarti ide konten saya sedikit.”

Justru satu produk bisa masuk ke banyak cerita.

Misalnya Anda menjual planner.

Anda dapat membuat konten tentang:

  • Cara mengatur target tahunan

  • Cara membuat target bulanan

  • Cara merencanakan pekerjaan mingguan

  • Cara membuat to-do list

  • Cara menentukan prioritas

  • Cara mengurangi pekerjaan yang menumpuk

  • Cara membangun kebiasaan

  • Cara mengatur waktu

  • Cara bekerja lebih fokus

  • Cara menghindari lupa jadwal

Plannernya tetap sama.

Tetapi konteksnya berbeda.

Karena itu, jangan hanya melihat apa produknya.

Lihat kehidupan pelanggan Anda.

Lihat apa yang ingin mereka lakukan.

Lihat masalah yang mereka hadapi.

Lalu temukan posisi produk Anda di dalam cerita tersebut.

Intinya: Jangan Bertanya Konten Apa yang Bisa Dibuat Tentang Produk

Coba ubah pertanyaannya.

Jangan lagi bertanya:

“Produk saya bisa dibuat konten apa?”

Mulailah bertanya:

“Produk saya cocok masuk ke cerita apa?”

“Produk saya membantu menyelesaikan masalah apa?”

“Produk saya digunakan dalam aktivitas apa?”

“Produk saya bisa menjadi bagian dari solusi apa?”

Ketika Anda mulai berpikir seperti ini, produk yang terlihat sederhana pun dapat menghasilkan banyak ide konten.

Anda tidak lagi hanya membuat promosi.

Anda mulai membuat cerita.

Anda membantu orang memahami masalahnya.

Anda memberikan berbagai kemungkinan solusi.

Dan di dalam solusi tersebut, produk Anda memiliki tempat.

Jadi, tugas Anda sekarang bukan hanya memikirkan bagaimana mempromosikan barang yang dijual.

Coba pikirkan:

“Barang saya cocok berada dalam cerita apa?”

Dari satu pertanyaan itu, Anda bisa menemukan banyak ide, banyak cerita, dan banyak konten baru yang dapat digunakan untuk membantu menjual produk tanpa harus terus-menerus terlihat seperti sedang berjualan.

Belajar Cara Membuat Konten untuk Jualan di SekolahUMKM

Membuat konten untuk jualan tidak harus selalu dimulai dengan promosi produk. Anda bisa belajar memahami masalah pelanggan, menemukan cerita yang relevan, dan memasukkan produk sebagai bagian dari solusi.

Di SekolahUMKM.com, Anda bisa belajar berbagai materi bisnis dan pemasaran untuk membantu memulai, menjalankan, dan mengembangkan usaha.

Dengan membership hanya Rp50.000 per bulan, Anda mendapatkan akses ke ratusan kelas, video, dan materi bisnis yang dapat dipelajari sesuai kebutuhan.

Mulai dari pemasaran, penjualan, produk, operasional, hingga berbagai template dan materi praktis untuk bisnis.

Daftar SekolahUMKM sekarang dan mulai belajar cara mengembangkan bisnis dengan lebih terarah.

Mulai Buat Konten yang Tidak Hanya Jualan

Pada akhirnya, membuat konten untuk jualan bukan berarti setiap konten harus terus-menerus mempromosikan produk.

Produk Anda bisa menjadi bagian dari cerita yang lebih besar.

Tugas Anda adalah memahami masalah, kebutuhan, dan aktivitas calon pelanggan, lalu mencari konteks yang tepat agar produk Anda menjadi bagian dari solusi.

Jadi, jangan hanya bertanya, “Saya harus bikin konten apa tentang produk ini?”

Coba tanyakan, “Produk ini bisa masuk ke cerita apa?”

Dari sana, satu produk sederhana bisa menghasilkan banyak ide konten.

Mulailah dari cerita, kebutuhan, dan masalah audiens. Setelah itu, masukkan produk Anda secara natural sebagai bagian dari solusi.

Kalau ingin belajar lebih banyak tentang pemasaran, konten, penjualan, dan cara mengembangkan bisnis, Anda bisa belajar di SekolahUMKM.com.

Dengan hanya Rp50.000 per bulan, Anda bisa mengakses ratusan kelas dan berbagai materi bisnis untuk membantu memulai, menjalankan, dan mengembangkan usaha.

Daftar SekolahUMKM.com dan mulai belajar sesuai kebutuhan bisnis Anda.

FAQ

Apa itu konten untuk jualan?

Konten untuk jualan adalah konten yang dibuat untuk membantu calon pelanggan memahami masalah, kebutuhan, atau solusi, sekaligus mengenalkan produk atau jasa yang relevan.

Bagaimana cara membuat konten untuk jualan tanpa terlihat terlalu promosi?

Jangan hanya membahas produk secara langsung. Mulailah dari masalah, kebutuhan, aktivitas, atau tujuan calon pelanggan, lalu masukkan produk Anda sebagai bagian dari solusi.

Bagaimana jika produk yang dijual terlihat sulit dijadikan konten?

Cari konteks yang lebih besar. Misalnya, planner dapat dikaitkan dengan produktivitas, manajemen waktu, perencanaan target, atau membangun kebiasaan. Dari satu produk, Anda bisa menemukan banyak sudut konten.

Apakah setiap konten harus membahas produk yang dijual?

Tidak. Anda dapat membahas berbagai hal yang relevan dengan kebutuhan audiens. Produk Anda tidak harus menjadi satu-satunya fokus, tetapi dapat menjadi bagian dari solusi yang dibahas.

Apakah boleh membahas produk yang tidak saya jual?

Boleh, selama relevan dengan topik dan bermanfaat bagi audiens. Produk lain dapat menjadi referensi, rekomendasi, atau bahkan peluang kerja sama, affiliate, maupun reseller.

Bagaimana menemukan ide konten dari satu produk?

Coba tanyakan: produk ini membantu menyelesaikan masalah apa, digunakan dalam situasi apa, membantu orang melakukan apa, dan cocok dimasukkan ke dalam cerita apa. Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat menjadi sumber banyak ide konten.

Mengapa produk sebaiknya dimasukkan ke dalam sebuah cerita?

Karena calon pelanggan tidak selalu langsung merasa membutuhkan produk. Ketika mereka memahami masalah dan solusi yang lebih besar, mereka dapat melihat fungsi produk Anda dalam konteks yang lebih relevan.

Artikel

Baca Artikel Lainnya

Thumbnail
Apa Itu UMKM? Pengertian, Jenis, Kriteria, dan Contohnya

Apa Itu UMKM?  UMKM adalah singkatan dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, yaitu kelompok usaha yang memiliki skala usaha tertentu dan menjadi bagian penting dalam perekonomian Indonesia....

Yudha Adhyaksa

19 Aug 2026

Thumbnail
Gufron Syarif: Dari Bankir hingga Membangun Bisnis HAUS!

Tahukah Anda, owner "HAUS" member SekolahUMKM? Ini kisahnya! 🌱 INSPIRASI BISNIS HARI INI Dengan lebih dari 200 cabang yang tersebar di belasan kota besar Indonesia, jaringan minuman...

Yudha Adhyaksa

19 Aug 2026

Thumbnail
Irresistible Offer UMKM: Cara Membuat Penawaran Sulit Ditolak Pembeli

“Produk sudah bagus, tapi kenapa orang tetap nggak jadi beli?” Ini situasi yang sangat umum. Kamu sudah: Pilih bahan terbaik Jaga kualitas Tentukan harga yang kompetitif...

Yudha Adhyaksa

19 Aug 2026

Daftar Sekarang

Ilmu Pengusaha Syariah

Terlengkap

Dapatkan semua Kelas baru gratis
dengan berlangganan

Langganan Sekarang Image