Artikel
Yudha Adhyaksa
19 Aug 2026
Tahukah Anda, owner "HAUS" member SekolahUMKM? Ini kisahnya!
Dengan lebih dari 200 cabang yang tersebar di belasan kota besar Indonesia, jaringan minuman kekinian Haus! kini sukses meraup omzet miliaran rupiah per bulan dan terus bersiap memperluas ekspansi pasarnya ke Asia Tenggara.
Namun menariknya, tidak semua pengusaha sukses langsung menemukan bisnis yang tepat.
Gufron Syarif, pendiri dan CEO HAUS!, juga melewati perjalanan yang panjang.
Sebelum menjadi pengusaha, ia pernah bekerja di bank selama sekitar 3 tahun dan kemudian menjadi dosen. Ia juga sempat mencoba beberapa bisnis yang akhirnya gagal.
Justru dari perjalanan tersebut ada banyak pelajaran penting untuk UMKM.
Gufron sudah memiliki pendidikan dan pengalaman profesional, tetapi tetap memilih jalan menjadi pengusaha.
Pelajaran:
Jangan merasa harus menunggu semuanya sempurna untuk memulai bisnis.
Sebelum HAUS!, Gufron pernah mencoba beberapa bisnis, termasuk bisnis makanan. Tidak semuanya berhasil.
Pelajaran:
Bisnis yang gagal bukan berarti Anda gagal sebagai pengusaha.
Yang penting adalah:
belajar → evaluasi → perbaiki → coba lagi.
Gufron pernah mengakui bahwa usaha sebelumnya banyak berdasarkan insting.
Ketika ingin membangun bisnis yang bisa berkembang lebih besar, pendekatannya berubah menjadi lebih berbasis riset pasar.
Pelajaran:
Jangan hanya bertanya:
“Saya mau jual apa?”
Tetapi tanyakan:
“Pasar membutuhkan apa?”
Saat mengembangkan bisnis minuman, Gufron melihat peluang pada konsumen kelas menengah ke bawah dan mencari produk yang sesuai dengan kemampuan mereka.
HAUS! kemudian menawarkan minuman dengan harga yang terjangkau.
Pelajaran:
Produk yang bagus belum tentu laku.
Produk harus bertemu dengan:
kebutuhan + kemampuan membeli + kebiasaan konsumen.
Gufron menyadari dirinya kuat di bidang marketing dan branding, tetapi bisnis membutuhkan kemampuan lain seperti keuangan dan pengelolaan SDM.
Karena itu, ia memilih bekerja bersama partner yang memiliki keahlian yang melengkapi dirinya.
Pelajaran:
Pengusaha tidak harus bisa semuanya.
Kenali:
Apa kekuatan saya?
Apa kelemahan saya?
Siapa yang bisa melengkapinya?
Salah satu cita-cita Gufron adalah membangun usaha yang bisa berkembang secara nasional bahkan regional.
Karena itu, ketika memilih bisnis, ia tidak hanya melihat apakah produk bisa laku hari ini.
Ia juga memikirkan:
“Apakah bisnis ini bisa diperbesar?”
Pelajaran:
Jangan hanya mencari bisnis yang bisa menghasilkan uang.
Cari bisnis yang mempunyai potensi untuk berkembang.
Perjalanan Gufron menunjukkan bahwa bisnis yang sekarang terlihat besar sebenarnya dibangun dari berbagai pengalaman sebelumnya.
Ada bisnis yang gagal.
Ada bisnis yang berhasil tetapi menghadapi masalah.
Ada pula pengalaman yang akhirnya memberikan pelajaran untuk bisnis berikutnya.
Pelajaran:
Pengalaman bisnis tidak pernah benar-benar sia-sia kalau kita mau belajar darinya.
HAUS! bermula dari satu outlet dan kemudian berkembang menjadi jaringan ratusan outlet dalam beberapa tahun.
Pelajaran untuk UMKM:
Tidak masalah memulai kecil.
Yang penting sejak awal pikirkan:
Bagaimana bisnis ini bisa dijalankan berulang kali?
Karena bisnis yang hanya bergantung pada pemilik akan sulit berkembang.
Perjalanan Gufron Syarif mengajarkan bahwa menjadi pengusaha bukan tentang langsung menemukan bisnis yang sempurna.
Tetapi tentang:
Berani mulai.
↓
Berani gagal.
↓
Mau belajar.
↓
Memahami pasar.
↓
Menemukan model bisnis yang tepat.
↓
Membangun sistem.
↓
Mengembangkan skala.
Pertanyaan untuk direnungkan hari ini:
Apakah selama ini Anda memilih produk berdasarkan:
❌ Apa yang Anda sukai?
atau berdasarkan:
✅ Apa yang benar-benar dibutuhkan pasar?
Karena salah satu perbedaan antara sekadar berjualan dan membangun bisnis adalah kemampuan memahami pasar dan menciptakan sistem yang bisa berkembang.
Kisah Gufron Syarif menunjukkan bahwa membangun bisnis bukan hanya tentang menemukan produk yang laku. Ada proses memahami pasar, menentukan target konsumen, membangun tim, hingga menciptakan sistem yang memungkinkan bisnis berkembang.
Bagi UMKM, pelajaran ini sangat relevan. Bisnis yang awalnya kecil tetap bisa berkembang jika sejak awal dibangun dengan cara berpikir yang tepat.
Di SekolahUMKM.com, Anda bisa mempelajari berbagai aspek bisnis secara lebih terstruktur, mulai dari menemukan peluang, memahami pasar, pemasaran, keuangan, SDM, hingga membangun sistem bisnis. Dengan akses belajar Rp50.000/bulan, Anda bisa belajar secara bertahap sesuai kebutuhan usaha.
Tidak harus langsung membangun ratusan cabang. Yang penting, mulai dari bisnis yang ada di tangan Anda sekarang dan perlahan bangun sistem agar bisnis tersebut bisa tumbuh.
Perjalanan Gufron Syarif bersama HAUS! memberikan satu pelajaran penting: bisnis besar tidak selalu dimulai dari ide yang langsung sempurna.
Ada proses mencoba, mengalami kegagalan, memahami pasar, menemukan model bisnis yang tepat, membangun tim, dan kemudian menciptakan sistem agar bisnis dapat berkembang.
Bagi UMKM, memulai dari kecil bukanlah masalah. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai bisnis selamanya bergantung pada insting pemilik dan kerja keras tanpa sistem.
Mulailah dengan memahami siapa pelanggan Anda, apa yang mereka butuhkan, berapa kemampuan mereka untuk membeli, dan bagaimana bisnis Anda bisa memberikan solusi yang tepat.
Setelah menemukan model yang sesuai, mulai bangun sistemnya.
Karena tujuan membangun bisnis bukan sekadar mendapatkan penjualan hari ini, tetapi menciptakan usaha yang mampu bertahan, berkembang, dan memberikan nilai yang lebih besar.
Gufron Syarif adalah pendiri dan CEO HAUS!, bisnis minuman yang berkembang dari satu outlet menjadi jaringan dengan ratusan outlet di Indonesia.
Salah satu pelajaran utamanya adalah pentingnya belajar dari kegagalan, memahami kebutuhan pasar, menentukan target konsumen, membangun tim yang saling melengkapi, dan menciptakan sistem yang memungkinkan bisnis berkembang.
Tidak. Yang lebih penting adalah memastikan model bisnisnya sudah tepat dan dapat dijalankan secara konsisten. Setelah bisnis terbukti berjalan dengan baik, barulah pemilik dapat mempertimbangkan pengembangan skala.
Karena produk yang bagus belum tentu dibutuhkan oleh semua orang. Dengan memahami target pasar, UMKM dapat menyesuaikan produk, harga, komunikasi pemasaran, dan cara penjualan dengan konsumen yang ingin dilayani.
Tidak. Pengusaha perlu memahami bisnis secara menyeluruh, tetapi tidak harus menjadi ahli dalam semua bidang. Membangun tim atau bekerja sama dengan orang yang memiliki keahlian berbeda justru dapat membuat bisnis lebih kuat.
Yudha Adhyaksa, founder SekolahUMKM dan konsultan bisnis. Berpengalaman 12 tahun di 4 bank internasional, termasuk sebagai Manager Asia. Berpengalaman dalam tata kelola korporasi, manajemen risiko, ekspor-impor, financial crime, dan transformasi proses bisnis. Melalui SekolahUMKM, ia membawa standar bisnis korporasi ke UMKM agar berkembang dengan sistem bisnis yang kuat.
Artikel
Apa Itu UMKM? UMKM adalah singkatan dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, yaitu kelompok usaha yang memiliki skala usaha tertentu dan menjadi bagian penting dalam perekonomian Indonesia....
Yudha Adhyaksa
19 Aug 2026
“Produk sudah bagus, tapi kenapa orang tetap nggak jadi beli?” Ini situasi yang sangat umum. Kamu sudah: Pilih bahan terbaik Jaga kualitas Tentukan harga yang kompetitif...
Yudha Adhyaksa
19 Aug 2026
Kenyataan di Lapangan yang Sering Terjadi Banyak pelaku UMKM sudah capek promosi ke mana-mana. Posting tiap hari. Broadcast tiap minggu. Kadang ikut iklan juga. Tapi hasilnya tetap naik tur...
Yudha Adhyaksa
19 Aug 2026
Daftar Sekarang
Dapatkan semua Kelas baru gratis
dengan berlangganan