Artikel
Yudha Adhyaksa
16 Aug 2026
Pernah ngerasa usaha jalan di tempat?
Produk sudah ada. Sudah jualan. Sudah capek promosi. Tapi hasilnya gitu-gitu aja. Kadang laku, kadang sepi. Bahkan sering bingung, sebenarnya yang salah itu di mana.
Banyak pelaku UMKM mengalami hal yang sama. Fokusnya biasanya ke jualan terus. Yang penting produk jadi, langsung dipasarkan. Harapannya, nanti sambil jalan bisa berkembang.
Masalahnya, tanpa arah yang jelas, usaha jadi seperti jalan tanpa peta.
Akhirnya:
Padahal kalau dilihat, brand besar yang sekarang kita kenal, dulu juga mulai dari kecil. Bedanya, mereka punya arah yang jelas sejak awal.
Bukan soal modal besar. Tapi soal cara berpikir dan cara membangun brand.
Banyak yang mengira brand besar itu langsung besar dari awal. Padahal kenyataannya tidak begitu.
Semua brand besar melalui proses:
Yang membedakan mereka dengan UMKM kebanyakan adalah mereka punya brand plan yang jelas.
Mereka tahu:
Nah, ini yang sering dilewatkan oleh UMKM.
Kita bahas satu per satu, tapi dengan cara yang praktis, bukan teori berat.
Banyak UMKM bikin produk dengan cara:
“Yang penting bisa dijual dulu”
Contoh:
Masalahnya, kalau produk terasa “sama”, pembeli tidak punya alasan untuk memilih kita.
Coba mulai dari sini:
Tidak harus langsung sempurna. Tapi minimal punya arah.
Ini sering dianggap sepele, padahal penting.
Contoh sederhana:
Semakin jelas category-nya, semakin mudah dikenal.
Cara praktis:
Kalau masuk ke pasar yang sudah penuh tanpa pembeda, siap-siap capek di harga.
Ini kesalahan klasik:
Target market = “semua orang”
Akhirnya komunikasi jadi tidak kena ke siapa-siapa.
Lebih baik sempit tapi jelas.
Contoh:
Semakin spesifik, semakin mudah:
Jangan alergi lihat kompetitor.
Justru dari situ kita belajar:
Dari situ kita bisa ambil posisi:
Kalau tidak tahu kompetitor, kita seperti main bola tapi tidak tahu lawannya siapa.
Positioning itu sederhana:
“Mau dikenal sebagai apa?”
Contoh:
Kalau positioning jelas, orang akan ingat.
Kalau tidak jelas, usaha akan mudah dilupakan.
Setelah semua jelas, baru komunikasi.
Bukan asal posting:
Tapi:
Brand itu terbentuk dari komunikasi yang konsisten.
Awal:
Perubahan:
Hasil:
Awal:
Perubahan:
Hasil:
Awal:
Perubahan:
Hasil:
Awal:
Perubahan:
Hasil:
Awal:
Perubahan:
Hasil:
Awal:
Perubahan:
Hasil:
Ini sering banget kejadian di lapangan. Banyak orang langsung menjalankan bisnis tanpa memahami market dan positioning produknya. Akibatnya, masalah yang muncul bukan hanya produk tidak laku, tetapi bisnis juga sulit berkembang karena sejak awal tidak memiliki arah yang jelas.
Langsung jualan tanpa tahu siapa calon pembeli, apa kebutuhan mereka, berapa kemampuan belinya, dan bagaimana kondisi kompetitor. Akhirnya produk tidak laku dan pemilik usaha baru menyadari bahwa produknya ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan market.
Melihat orang lain sukses menjual produk tertentu, langsung ikut menjualnya. Padahal belum tentu sesuai dengan kemampuan, modal, pengalaman, atau target market sendiri. Akhirnya hanya ikut ramai tanpa memiliki strategi yang jelas untuk mempertahankan penjualan.
Ingin menjual kepada semua orang karena menganggap semakin luas target market, semakin besar peluang mendapatkan pembeli. Padahal komunikasi yang terlalu umum justru sulit terasa relevan bagi calon pelanggan. Target market yang lebih spesifik membuat kita lebih mudah menentukan produk, harga, bahasa komunikasi, dan cara pemasarannya.
Produk yang ditawarkan sama persis dengan kompetitor, baik dari produk, pelayanan, maupun cara pemasarannya. Ketika tidak ada alasan yang membuat pelanggan memilih kita, bisnis akhirnya hanya mengandalkan harga murah untuk mendapatkan pembeli. Kondisi ini membuat margin semakin kecil dan bisnis sulit memiliki posisi yang kuat.
Hari ini ingin dikenal sebagai penjual murah, besok ingin terlihat premium, lalu cara komunikasinya berubah lagi. Akibatnya calon pelanggan sulit memahami sebenarnya brand tersebut ingin dikenal sebagai apa. Komunikasi yang konsisten membantu membangun persepsi yang jelas sehingga pelanggan lebih mudah mengenali dan mengingat brand.
Jangan minder jadi UMKM.
Justru ada kelebihan:
Kalau ini dimanfaatkan dengan benar, bisa lebih cepat berkembang dibanding perusahaan besar.
Masalahnya, banyak yang tidak sadar dan tidak memaksimalkan.
Yang bikin usaha berkembang bukan sekadar:
Tapi:
Tanpa itu, usaha akan capek sendiri.
Dengan itu, usaha akan lebih ringan jalannya.
Tidak harus langsung sempurna. Tidak harus langsung seperti brand besar.
Yang penting mulai dulu dengan arah yang benar.
Kalau sekarang merasa:
Tidak masalah.
Semua brand besar juga pernah di posisi itu.
Yang penting mulai dibenahi satu per satu:
Sedikit demi sedikit.
Kalau belajar sendiri kadang bingung. Wajar. Karena banyak hal yang tidak kelihatan kalau belum pernah ngalamin.
Makanya banyak pelaku UMKM yang akhirnya cari lingkungan belajar yang tepat, biar tidak jalan sendirian.
Di SekolahUMKM.com, kamu bisa mulai dari yang ringan dulu. Tidak harus langsung ngerti semuanya. Yang penting pelan-pelan paham arah bisnisnya.
Biayanya juga tidak berat, sekitar 50 ribu per bulan. Tapi yang lebih penting, kamu tidak lagi nebak-nebak jalan usaha sendiri.
Karena kadang yang kita butuh bukan teori banyak, tapi arahan yang jelas dan contoh nyata yang bisa langsung dipraktekan.
Kalau usaha mau naik kelas, memang harus mulai dari cara berpikir yang berbeda. Dari yang asal jalan, jadi punya arah. Dari yang kecil, pelan-pelan jadi brand yang punya nilai.
Membangun brand UMKM tidak harus dimulai dengan modal besar, desain mahal, atau langsung punya ribuan pelanggan.
Yang lebih penting adalah punya arah yang jelas.
Mulai dari memahami produk yang dijual, menentukan market yang ingin dituju, mempelajari kompetitor, menemukan pembeda, lalu membangun positioning yang mudah dipahami pelanggan.
Karena ketika brand tidak punya arah, bisnis biasanya hanya mengandalkan satu hal: harga.
Padahal kalau terus bersaing dengan harga murah, akan selalu ada kompetitor yang bisa menjual lebih murah.
Sebaliknya, ketika pelanggan memahami apa yang membuat bisnis Anda berbeda, alasan mereka membeli tidak lagi hanya soal harga.
Tidak perlu langsung sempurna.
Kalau saat ini brand Anda masih kecil, produknya masih sederhana, atau target market belum terlalu jelas, mulai saja dari satu hal yang paling mudah diperbaiki.
Perjelas:
Produk Anda
Siapa pelanggan Anda
Masalah yang Anda selesaikan
Alasan orang memilih Anda
Kemudian bangun komunikasi secara konsisten.
Pelan-pelan, bisnis yang awalnya hanya sekadar jualan bisa berkembang menjadi brand yang memiliki posisi dan nilai di mata pelanggan.
Membangun brand tidak harus dimulai dengan modal besar. Yang lebih penting adalah memahami produk, mengenali target market, menemukan pembeda, dan membangun komunikasi yang konsisten. Dengan Rp50.000/bulan, Anda dapat mempelajari strategi branding, pemasaran, dan pengembangan bisnis UMKM di SekolahUMKM.com.
Brand besar juga memulai dari skala kecil. Perbedaannya, mereka memiliki arah yang jelas dalam menentukan produk, market, positioning, dan cara berkomunikasi.
Bagi UMKM, membangun brand dapat dimulai dengan memperjelas produk, memahami kebutuhan pelanggan, mempelajari kompetitor, dan menemukan alasan yang membuat pelanggan memilih bisnis kita. Tidak harus langsung sempurna, tetapi perlu dilakukan secara bertahap dan konsisten agar usaha tidak hanya bersaing melalui harga.
Bisa. Menurut materi ini, brand besar juga dimulai dari skala kecil. Yang penting adalah memiliki arah, memahami target market, memiliki pembeda, dan membangun komunikasi secara konsisten.
Mulailah dengan mencari tahu apa yang membuat produk berbeda, masalah apa yang diselesaikan, dan alasan pelanggan harus memilih produk tersebut. Pembeda tidak harus langsung sempurna, tetapi perlu memiliki arah yang jelas.
Target market yang terlalu luas membuat komunikasi sulit terasa relevan. Dengan target yang lebih spesifik, UMKM lebih mudah menentukan produk, harga, cara promosi, dan positioning.
Tentukan ingin dikenal sebagai apa oleh pelanggan. Contohnya, laundry cepat satu hari selesai, katering sehat, atau frozen food praktis untuk anak kos. Positioning membantu pelanggan memahami keunggulan bisnis secara lebih jelas.
Tidak. Jika bisnis tidak memiliki pembeda, pelanggan akan lebih mudah berpindah ketika menemukan harga yang lebih rendah. Karena itu, UMKM perlu membangun nilai dan alasan pembelian selain harga.
UMKM biasanya lebih fleksibel, lebih cepat mengambil keputusan, lebih mudah melakukan perubahan, dan lebih dekat dengan pelanggan. Keunggulan ini dapat dimanfaatkan untuk beradaptasi dengan kebutuhan pasar.
Yudha Adhyaksa, founder SekolahUMKM dan konsultan bisnis. Berpengalaman 12 tahun di 4 bank internasional, termasuk sebagai Manager Asia. Berpengalaman dalam tata kelola korporasi, manajemen risiko, ekspor-impor, financial crime, dan transformasi proses bisnis. Melalui SekolahUMKM, ia membawa standar bisnis korporasi ke UMKM agar berkembang dengan sistem bisnis yang kuat.
Artikel
Apa Itu UMKM? UMKM adalah singkatan dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, yaitu kelompok usaha yang memiliki skala usaha tertentu dan menjadi bagian penting dalam perekonomian Indonesia....
Yudha Adhyaksa
19 Aug 2026
Tahukah Anda, owner "HAUS" member SekolahUMKM? Ini kisahnya! Kisah Member SekolahUMKM: Gufron Syarif "HAUS" Dengan lebih dari 200 cabang yang tersebar di belasan kota be...
Yudha Adhyaksa
19 Aug 2026
“Produk sudah bagus, tapi kenapa orang tetap nggak jadi beli?” Ini situasi yang sangat umum. Kamu sudah: Pilih bahan terbaik Jaga kualitas Tentukan harga yang kompetitif...
Yudha Adhyaksa
19 Aug 2026
Daftar Sekarang
Dapatkan semua Kelas baru gratis
dengan berlangganan