Artikel
Yudha Adhyaksa
21 Nov 2024
Wajar kalau pertanyaan ini sering diajukan.
“Kalau semua karyawan resign karena riba, lalu bagaimana kalau semua Bank tutup?”
Jawabannya adalah Bank tidak akan tutup.
Justru yang terjadi adalah Bank ribawi akan mengubah dirinya. Karena tuntutan syar’i ini tidak hanya berasal dari pegawainya yang Muslim tapi juga dari nasabah Muslimnya.
Ini terjadi karena semakin kesini gaung dakwah anti riba semakin agresif dan masif melalui media sosial. Menyentuh segala lapisan masyarakat dari generasi Milennial hingga generasi X menjadi melek dosa riba. Jadi mau tidak mau pimpinan Bank riba harus berubah untuk mengurangi gejolak resign pegawainya dan merengkuh pangsa pasar nasabah yang anti Bank riba.
Insyaa Allah, kita harus optimis!
“Bagaimana kalau Bank malah merekrut pegawai non Muslim, yang rugi kaum Muslimin lho! Lebih baik pegawai Muslim balik kerja lagi deh karena lebih paham hukum syariah, jadi bisa berjuang mengubah sistem Bank dari dalam”.
Tidak masalah Bank mau merekrut siapapun, karena itu diluar kendali kita. Yang penting bukan pegawai Muslim karena ‘resiko’nya berat di akhirat.
Jadi, meski dikuasai orang non Muslim 100%, Bank akan tetap berubah. Mengapa? Lagi-lagi karena mayoritas nasabahnya adalah kaum Muslimin. Jadi demi kepentingan bisnis, Bank akan berubah untuk memenuhi tuntutan pangsa pasar terbesarnya yang ingin membeli produk halal saja. Lagipula, sesungguhnya riba juga ada di kitab agama lain. Lambat laun akan timbul permintaan dari non Muslim juga untuk menghilangkan riba dari transaksi Bank.
Sangatlah sulit mengubah Bank riba dari dalam walaupun dilakukan pegawai Muslimnya secara berkelompok. Saya beritahu ya, banyak sekali conflict of interest, tantangan dan masalah yang harus diatasi, diantaranya:
Biayanya terlalu besar untuk mengubah sistem dan prosedur yang jumlahnya mencapai ratusan ribu item dan saling terintegrasi pula. Apalagi di setiap perubahan pasti perlu proses trial and error dan ini membutuhkan waktu sangat lama.
Atasan seperti jajaran Kepala Divisi, para Direktur dan Komisaris memiliki posisi yang sangat kuat. Apabila mereka tidak suka dengan pemikiran anti riba, dengan mudah mereka melengserkan pegawai Muslim dengan alasan tidak satu visi lagi. Pegawai tersebut akan ditaruh di posisi rendah yang tidak memiliki wewenang. Bisa juga dicari-cari kesalahannya supaya bisa diterbitkan Surat Peringatan, tidak dinaikkan gajinya dan dihilangkan bonusnya,.
Tidak ada orang yang sanggup bertahan ditekan sedemikian rupa. Pada akhirnya pasti dia merasa tidak nyaman dan resign dengan sendirinya.
Dalam kondisi normal, pasti Bank memprioritaskan kebutuhan nasabah daripada pegawainya yang menuntut perubahan sistem menjadi syar’i. Selain besar biayanya, waktunya terlalu lama juga tidak ada keuntungan jangka pendek. Tentu pimpinan Bank tidak mau timbul ketidakstabilan karena anjloknya sumber pemasukan riba.
Lagi-lagi, untuk mengubah UU jelas mustahil. Meski punya koneksi pejabat Negara dan uang berlimpah untuk membiayai perjuangan belum tentu berhasil.
Berat kan perjuangan menaklukkan semua itu? Kita tidak diwajibkan menyelamatkan negara apabila tidak mampu. Yang wajib itu menyelamatkan diri sendiri, apalagi ketika nanti dihisab juga sendiri-sendiri kok.
Bagaimana membenarkan perilaku diri supaya syar’i, membentengi diri dari promo super menarik dari pinjaman riba online, mengedukasi anak untuk menjauh dari pekerjaan riba … itu semua lebih penting. Lakukanlah sesuai batas kemampuan!
Kekhawatiran kehilangan pekerjaan karena ingin menjauhi riba sering membuat seseorang ragu untuk mengambil langkah. Namun, artikel ini menekankan pentingnya fokus pada keputusan yang dapat dikendalikan, seperti memilih pekerjaan, membangun usaha, dan mengembangkan sumber penghasilan yang sesuai dengan prinsip syariah.
Pelajari lebih dalam tentang bisnis syariah, permodalan, keuangan, dan strategi membangun usaha melalui 500+ kelas di SekolahUMKM.com hanya Rp50.000/bulan. Dengan bekal ilmu yang tepat, Anda dapat mempersiapkan diri untuk membangun sumber penghasilan yang lebih sesuai dengan prinsip yang Anda yakini.
Kekhawatiran bahwa banyaknya karyawan yang meninggalkan Bank ribawi akan membuat Bank tutup tidak menjadi fokus utama dalam pembahasan ini. Artikel justru mengajak pembaca untuk melihat hal yang berada dalam kendali dirinya sendiri, yaitu menjauhi transaksi dan pekerjaan yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip syariah.
Mengubah sistem Bank dari dalam juga digambarkan memiliki berbagai tantangan, mulai dari kompleksitas sistem dan prosedur, kepentingan manajemen, kebutuhan nasabah, hingga regulasi. Karena itu, langkah yang lebih realistis bagi individu adalah memperkuat pemahaman, memilih sumber penghasilan yang sesuai, dan mengembangkan alternatif usaha secara bertahap.
Artikel ini berpandangan bahwa Bank tidak serta-merta tutup. Perubahan sistem lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi bisnis, kebutuhan nasabah, regulasi, dan berbagai faktor lainnya.
Artikel ini menyebutkan beberapa tantangan, seperti sistem dan prosedur yang kompleks, struktur manajemen, kepentingan nasabah, serta regulasi yang mengatur aktivitas perbankan.
Tidak. Seseorang dapat mempertimbangkan berbagai alternatif pekerjaan maupun usaha yang sesuai dengan kemampuan dan prinsip yang ingin dijalankan.
Langkah yang dapat dipersiapkan antara lain meningkatkan keterampilan, membangun sumber penghasilan alternatif, mempelajari bisnis syariah, dan melakukan transisi secara terencana sesuai kondisi masing-masing.
Usaha dapat menjadi salah satu pilihan untuk membangun sumber penghasilan di luar pekerjaan yang ingin ditinggalkan. Namun, tetap diperlukan kemampuan, perencanaan modal, pengelolaan keuangan, dan pemahaman bisnis agar usaha dapat berjalan dengan baik.
Yudha Adhyaksa, founder SekolahUMKM dan konsultan bisnis. Berpengalaman 12 tahun di 4 bank internasional, termasuk sebagai Manager Asia. Berpengalaman dalam tata kelola korporasi, manajemen risiko, ekspor-impor, financial crime, dan transformasi proses bisnis. Melalui SekolahUMKM, ia membawa standar bisnis korporasi ke UMKM agar berkembang dengan sistem bisnis yang kuat.
Artikel
Mencari tanah untuk proyek property bukan sekadar menemukan lokasi yang bagus dan mendapatkan harga murah. Salah memilih tanah bisa membuat modal terkunci bertahun-tahun, biaya membengkak, proyek terh...
Yudha Adhyaksa
05 Nov 2024
“Seandainya dulu saya tidak hijrah, pasti tidak sesusah ini.” “Dulu beli apa-apa gampang. Tidak mikir harga. Kalau mau beli, ya beli saja. Sekarang beli kopi sachet saja mikir-mik...
Yudha Adhyaksa
05 Nov 2024
Pakai Produk Bank? Boleh Asal Patuhi Syarat! Seorang pengusaha biasanya memiliki rekening di Bank untuk memperlancar berbagai transaksi bisnis, seperti membayar supplier, menerima pembayaran dari P...
Yudha Adhyaksa
05 Nov 2024
Daftar Sekarang
Dapatkan semua Kelas baru gratis
dengan berlangganan